SISTEM OTOT PADA KATAK
LAPORAN KULIAH LAPANGAN
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum Fisiologi Hewan yang
diampu oleh Siti Nurkamilah, M.Pd.
Disusun
oleh :
KELOMPOK
5
Ilham Nurdiansyah 15543001
Arin Sri Nursifa 15543002
Santi Suminar 15543006
Nurhadiani 15543009
Melisa Nursuciani 15544013
Neng Siti Khotimah J. 15544016
Kelas
3 – B
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA DAN ILMU TERAPAN
INSTITUT PENDIDIKAN IDONESIA (IPI)
GARUT
2018
I.
JUDUL
Kontraksi Otot pada
katak
II.
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Hari/Tanggal : Senin/15 Januari 2018
Waktu : 11:00 s.d. 13:25 WIB
Tempat : Laboratorium Fisiologi Hewan
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
III.
TUJUAN
Untuk mengetahui respon
otot terhadap rangsangan listrik
IV.
DASAR TEORI
Otot adalah suatu
jaringan dalam tubuh manusia maupun hewan yang berperan sebagai alat gerak
aktif yang menggerakkan rangka tubuh manusia serta pergerakan dari organ dalam
tubuh. Otot merupakan salah satu dari empat kelompok jaringan pokok. Miologi
adalah istilah untuk ilmu yang mempelajari mengenai otot. Otot membentuk 43%
berat badan dan lebih dari 1/3-nya merupakan protein tubuh dan ½-nya adalah
tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat. Proses vital di
dalam tubuh seperti kontraksi jantung, kontriksi pembuluh darah, pernafasan,
gerakan peristaltic usus) terjadi karena adanya aktivitas otot.
Kuat tidaknya kontraksi
otot tergantung pada MCV (Maximum Contaction Voluntary), masa otot, otot yang
dipanjangkan sebelum berkontaksi, otot yang diberi beban sebelum berkontraksi,
tingkat kelelahan, tingkat keteralihan dan suhu otot. Persentase efisiensi
kerja dari otot manusia adalah sekitar 18%-26%. Efisiensi didefinisikan sebagai
rasio metabolism, berdasarkan penggunaan oksigen.
Penamaan otot biasanya
berkaitan dengan lokasi otot, jumlah origo, bentuk otot, besar dan panjang otot atau berdasarkan
fungsinya. Pada vertebrata, sistem ototnya serupa dengan yang dimiliki oleh
manusia, sedangkan pada sistem otot ivertebrata belum dimiliki atau belum
diketahui secara jelas sistem ototnya.
v
Fungsi
otot
Otot dalam sistem organ
manusia sangat mendukung proses pergerakannya. Selain dari paaitu, berikut
fungsi lainnya:
·
Menghasilkan
gerakan rangka, seperti kontraksi dan relaksasi otot yang menempel pada rangka
dapat mengggerakkan rangka
·
Mempertahankan
postur dan posisi tubuh, misalnya mempertahankan posisi kepala saat membaca
buku, berjalan dengan posisi tegak dan lain sebagianya.
·
Mengatur
pintu masuk dan keluar saluran dalam sistem tubuh, misalnya menelan, buang air
besar maupun kecil semua hal tersebut dipengaruhi oleh otot rangka yang
menyelaputinya.
·
Menyokong
jaringan lunak, menggerakkan organ-organ dalam tubuh seperti usus, jantung dan
sistem tubuh lainnya.
·
Mempertahankan
suhu tubuh, kontraksi rangka memerlukan energidan menghasilkan panas untuk
mempertahankan suhu normal bagi tubuh.
v
Struktur
otot
Hampir semua otot
rangka menempel pada tulang. Otot memiliki struktur dan komponen tersendiri
seperti :
·
Tendon,
jaringan ikat fibrosa (tidak elastic) yang tebal dan berwarna putih yang
menghubungkan otot rangka dengan tulang. Urat-urat ini berupa serabut-serabut
simpai yang putih, berkilap, tidak elastic. Aponeuroses adalah
lembaran-lembaran datar atau simpai dari jaringan fibrus dengan maksud untuk
nenuat kelompok-kelompok otot dan adakalanya menggandengkan sebuah oto dengan
bagian yang menggerakkannya.
·
Fascia,
merupakan jaringan ikat gabungan dari jaringan fibrus dan areolar yang
membungkus dan menghimpun otot menjadi satu. Setiap fasciculus dipisahkan oleh
jaringan ikat perimysium. Di dalam pascicle, endomysium mengelilingi 1 berkas
sel otot. Di antara endomysium dan berkas serat otot tersebar sel satelit yang
berfungsi dalam perbaikan jaringan otot yang rusak. Dalam bagian-bagian
tertentu, seperti dalam telapak tangan, fascia ini sangat padat dan kuat.
Contohnya adalah fascia Palmaris dan fascia plantaris.
·
Sarcolemma
(membrane sel/serat otot) dan sarcoplasma, yang merupakan unit structural
jaringan otot yang berdiameter 0,01 – 0,1 mm dengan panjang 1-40 mm yang
melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai pelindung otot. besar dan jumlah
jaringan terutama jaringan elastic, akan meningkat sejalan dengan penambahan
usia. Setial 1 serat otot dilapisi oleh jaringan elastic tipis yang disebut
sarcolemma. Protoplasma serat otot yang berisi materi semicair disebut
sarkoplasma. Di dalam matriks serat otot terbenam unit fungsional otot
berdiameter 0,001 mm yang disebut myofibril.
·
Miofibril,
merupakan serat-serat yang terdapat dalam otot. Di bawah mikroskop, miofibril
akan tampak spt pita gelap & terang yang bersilangan. Pita gelap (thick
filament) dibentuk oleh myosin. Pita terang (thin filament) dibentuk oleh
aktin, troponin & tropomiosin)
·
Miofilamen,
merupakan benang-benang/filament halus yang merasal dari myofibril. Terbagi
atas dua macam yaitu miofilamen homogeny (terdapat pada otot polos) dan
miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot kardiak dan pada otot
lurik.
·
Sarkoplasma,
merupakan cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana myofibril dan
miofilamen berada.
·
Reticulum
sarkoplasma : bagian padat dari fasia dalam dan menambatkan tendon-tendon yang
berjalan melalui pergelangan dan mata kaki masuk kedalam tangan dan kaki.
Jejaring kantung dan tubulus yang terorganisir pada jaringan
otot.Tubulus-tubulus yang sejajar dengan miofibril, yang pada garis Z dan zona
H bergabung membentuk kantung (lateral sac) yang dekat dengan sistem tubulus
transversal (Tubulus T). Tempat penyimpanan ion Ca2+. Tubulus T mencapai
saluran untuk berpindahnya cairan yang mengandung ion.ubulus T dan retikulum
sarkoplasma berperan dlm metabolisme, eksitasi, dan kontraksi otot.
ü
Mioglobin,
merupakan pigmen yang ada pada otot, berguna sebagai pengikat oksigen.
ü
Motor
end plates, merupakan tempat inervasi ujung-ujung saraf pada otot.
Otot tidak bekerja
sendiri-sendiri tetapi dalam kelompok untuk melaksanakan gerakan dari berbagai
bagian rangka tubuh. Menurut cara kerjanya, otot dibedakan menjadi :
a.
Antagonis
Dimana cara kerjanya menimbulkan
efek gerak berlawanan, Cara kerja otot antagonis dapat berupa gerakan :
·
Ekstenso
(meluruskan), felkso (membengkakkan)
·
Abduktor
(menjauhi tubuh), aduktor (mendekati tubuh)
·
Depresor
(arah ke bawah), elevator (arah ke atas)
·
Supinator
(menengadah), pronator (menelungkup)
b.
Sinergis
atau flexi
Cara kerjanya
menimbulkan gerakan searah atau
bersama-sama. Juga bekerja untuk menstabilkan bagian-bagian anggota lain
sewaktu bagian lain bergerak.
v
Karakteristik
/ sifat otot
Sistem otot memiliki
karakteristik / sifat tersendiri yaitu:
·
Kontrakstibilitas,
kemampuan otot untuk memendek atau berkontraksi.
·
Eksitabilitas,
serabut otot akan merespon dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf.
·
Ekstensibilitas,
umumnya terdapat pada beberapa jaringan biologis. ekstensibilitas adalah
kemampuan terulur atau meningkatnya pemanjangan otot, dan elastisitas adalah
kemampuan otot untuk kembali ke panjang normal setelah diulur (distretch).
Elastisitas otot akan mengembalikan otot ke posisi pemanjangan istirahat normal
(normal resting) setelah mengalami penguluran dan memberikan transmisi
ketegangan yang halus dari otot ke tulang.
·
Elastisitas,
Sifat elastis otot digambarkan sebagai 2 komponen utama. Komponen elastis
paralel (PEC) ditunjukkan oleh membran otot, yang memberikan tahanan pada saat
otot secara pasif terulur (stretch). Komponen elastis seri (SEC) terdapat pada
tendon, bekerja sebagai pegas yang lentur untuk menyimpan energi elastis ketika
otot yang tegang diulur (distretch). Komponen-komponen elastisitas otot ini
dinamakan demikian karena membran otot dan tendon masing-masing paralel dengan
serabut otot dan seri atau segaris dengan serabut otot, dimana memberikan
komponen kontraktil. Elastisitas otot skeletal manusia secara utama terdapat
pada SEC (tendon).
Baik SEC dan PEC memiliki sifat merekat yang
memungkinkan otot terulur dan kembali ke dalam bentuk semula. Ketika penguluran
statik pada group otot seperti hamstring dipertahankan selama jangka waktu
tertentu, maka secara progresif otot akan memanjang, dan meningkatkan ROM
sendi. Demikian pula, setelah group otot tertentu diulur (distretch), maka
tidak akan kembali dengan segera ke posisi pemanjangan istirahat (resting
length), tetapi secara bertahap akan memendek selama jangka waktu tertentu.
Respon viskoelastik ini pada otot tidak bergantung pada jenis kelamin
(independent).\
·
Iritabilitas
, Sifat karakteristik otot lainnya adalah irritabilitas. Irritabilitas adalah
kemampuan untuk merespon suatu stimulus. Stimulus yang mempengaruhi otot dapat
berupa elektrokimiawi seperti aksi potensial dari saraf yang mempersarafinya,
atau mekanikal seperti pukulan/benturan dari luar pada bagian otot. Ketika
diaktivasi oleh stimulus maka otot akan merespon dengan berkembangnya
ketegangan (tension).
v
Cara
kerja otot
Tulang-tulang dapat
digerakkan karena adanya otot yang berkontraksi. Bagian otot yang berkontraksi
sebenarnya adalah sel-sel otot. Otot berkontraksi karena pengaruh suatu
rangsangan melalui saraf. Rangsangan yang tiba ke sel otot akan memengaruhi
suatu zat (asetilkolin) yang peka terhadap rangsangan. Asetilkolin adalah zat
pemindah rangsangan yang dihasilkan pada bagian ujung saraf. Adanya asetilkolin
akan membebaskan ion kalsium yang berada di sel otot. Melalui proses tertentu,
adanya ion kalsium menyebabkan protein otot, yaitu aktin dan miosin berikatan
membentuk aktomiosin. Hal ini menyebabkan pemendekan sel otot sehingga
terjadilah kontraksi. Setelah berkontraksi, ion kalsium masuk kembali ke dalam
plasma sel, sehingga menyebabkan lepasnya pelekatan aktin dan miosin yang
menyebabkan otot menjadi lemas. Keadaan ini disebut relaksasi.
Otot yang sedang
berkontraksi menjadi besar, memendek, dan mengeras. Bila otot berkontraksi,
maka tulang-tulang tempat otot melekat akan tertarik sehingga tulang turut
bergerak. Adanya pergerakan tulang menyebabkan persendian bergerak pula. Jadi,
gerak pada tubuh kita melibatkan kerja sama otot, tulang, sendi, dan saraf.
V.
ALAT DAN BAHAN
Adapun alat yang digunakan dalam
praktikum otot yaitu :
|
Kymograph
|
Jarum
pentul
|
|
|
|
|
Gunting
bedah
|
Benang
|
|
|
|
|
Kapas
|
|
|
|
|
|
Katak
yang masih hidup
|
Larutan
NaCI 0,6 m
|
|
|
|
VI.
LANGKAH KERJA
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
praktikum otot pada katak yaitu :
1.
Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
2.
Disimpan
katak pada tempat bedah.
3.
Dipotong
femur kaki belakang katak yang masih hidup menggunakan gunting.
4.
Dikuliti
/ dikelupas kulit dari femur kaki belakang katak tersebut.
5.
Diambil
otot betis atau gastrofemiusnya yang lengkap
6.
Otot
betis diambil dari kulitnya dan dilepas dari tendo ekilesnya
7.
Dipotong
tulangnya dan di masukan otot betis tersebut ke dalam larutan NaCL
8.
Diangkat
otot tersebut kemudian diikat menggunakan benang
9.
Digantungkan
otot tersebut pada alat kymograph dan disimpan pada bak sera diberi larutan
NaCI kembali agar otot tidak kering
10. Dihubungkan otot katak tersebut dengan
arus listrik untuk mengetahui apakah otot masih merespon atau tidak
11. Dilakukan perangsangan pada otot menggunakan
kawat listrik yang dihubungkan dengan rangsang induksi pada stimulator
sedangkan signal magnet dihubungkan pada magnet
12. Diberikan rangsangan sekecil mungkin
untuk melihat respon otot minimal
13. Dilanjutkan dengan pemberian rangsangan
yang lebih besar untuk diamati respon yang cukup kuat
14. Diamati setiap respon gerak dari otot
tersebut dan percobaan dihentikan
VII.
DATA PENGAMATAN
|
No
|
Jenis Rangsang
|
Reaksi
|
|
1.
|
Rangsang tunggal
|
Bergerak
|
|
2.
|
Rangsang berturut-turut
|
Bergerak
|
video rangsangan pada otot
VIII.
PEMBAHASAN
Dilihat dari pengamatan
yang telah dilakukan maka dapat diketahui rangsangan dibedakan dalam beberapa
bentuk yaitu rangsangan mekanik (seperti pijatan, pukulan dan tarikan), kimia
(seperti pemberian larutan asam atau pemberian larutan garam), panas(keadaan
yang bersifat panas atau dingin) dan listrik (arus listrik yang diberi terhadap
otot)
Bila otot diberi
rangsangan tunggal, maka hasil perangsangan ini akan memberikan satu kontraksi
tunggal yang umumnya terdiri dari 2 periode, yaitu periode laten dan periode
kontraksi. Periode laten yaitu fase pemendekan otot dan periode kontraksi yaitu
setelah pemendekan otot kembali ke keadaan semula.
Pada pengamatan kali
ini yang digunakan preparatnya adalah katak, percobaan dilakukan untuk
membuktikan adanya kontraksi otot gastronemius pada katak yang dilakukan dengan
menggunakan rangsangan listrik yaitu dengan perangsangan langsung dengan
menempelkan bagian ujung kabel yang terdapat pada alat kimograf pada bagian
kaki belakang katak, yaitu di bagian betis yang telah dibedah atau dikelupas
kulitnya. Rangsang yang diberikan sekian volt dan diberi rangsangan
berulang-ulang, setelah itu diberikan NaCl 0.6 agar tetap hidup, apabila ATP
sudah habis akan mengalami tetanus atau kejang otot.
Pada rangsangan
berturut-turut ternyata tidak bisa dihitung rangsangannya, karena terlalu
banyak rangsangan yang diciptakan.
X.
KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan
yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada saat otot femur diberi
rangsangan (disetrum) menggunakan arus listrik otot tersebut berkontraksi dapat
dilihat saat otot bergerak dengan sendirinya setelah diberikan rangsangan.
Keadaan otot betis (femur) katak tersebut berkontraksi / bergerak secara terus
menerus jika arus lisrik tersebut disambungkan terus menerus. Dan otot tersebut
melekat pada rangka dan sendi.
DAFTAR PUSTAKA
(Online)
tersedia di [ http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Struktur-Jenis-dan-Fungsi-Otot-adalah.html
] diunduh pada tanggal 19 januari 2018 pukul 11.02 WIB
(Online)
tersedia di [ http://www.ilmufisioterapi.net/851/sifat-sifat-jaringan-otot.html
] diunduh pada tanggal 19 januari 2018 pukul 11.10 WIB








Tidak ada komentar:
Posting Komentar